Dari Memahami Konflik hingga Menemukan Jalan Penyelesaian

NTT, Agustus–September 2026 — Konflik tidak selalu hadir dalam bentuk pertentangan terbuka. Konflik dapat bermula dari perbedaan kepentingan, nilai, tujuan, persepsi, maupun keterbatasan sumber daya. Di dalam konteks tata kelola DAS di lintas batas negara, perbedaan-perbedaan kepentingan, tujuan dan persepsi dan keterbatasan terhadap sumber daya yang ada di masyarakat perbatasan jika tidak dikelola dengan baik berpotensi menjadi konflik. Berangkat dari kebutuhan masyarakat desa yang didapatkan dari proses Participatory Rural Appraisal (PRA) yang sudah dilakukan,  Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) melalui Program Timor Island Watersheds (TIWA) mendukung peningkatan kapasitas masyarakat di perbatasan dalam mengelola potensi konflik melalui Pelatihan Dasar Resolusi Konflik bagi Gugus Tugas Komunitas (GTK) di delapan desa target program di wilayah DAS Talau-Loes dan DAS Mota Masin, tanggal 27 Agustus hingga 5 September 2026, dengan keterwakilan masyarakat desa, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan desa.

Selengkapnya
Pokja DAS LBN Turun ke Desa, Melihat Langsung Kegiatan Proyek TIWA

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) tidak hanya membutuhkan kebijakan dan koordinasi di tingkat pemerintah. Pelaksanaannya juga perlu melihat kondisi masyarakat yang tinggal dan bergantung pada wilayah DAS tersebut. Karena itu, Pokja DAS Lintas Batas Negara (LBN) Kabupaten Belu dan Malaka melakukan kunjungan ke desa-desa dampingan Proyek TIWA (Timor Island Watersheds) pada September 2026. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi anggota Pokja untuk melihat langsung kegiatan yang sedang berjalan, bertemu pemerintah desa, masyarakat, dan kelompok tani, serta berdiskusi mengenai kondisi dan kebutuhan di masing-masing desa.

Selengkapnya
Langkah Nyata Praktik Pertanian Berkelanjutan di Belu dan Malaka

Menemukan masalah utama dari menurunnya hasil panen adalah langkah awal untuk memperbaiki sektor pertanian di wilayah perbatasan. Hasil Participatory Rural Appraisal (PRA) di delapan desa target di dua kabupaten menunjukkan bahwa mayoritas petani belum menerapkan Good Agriculture Practices (GAP). Merespons temuan tersebut, Proyek Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Lintas Negara Indonesia dan Timor Leste (TIWA) yang melibatkan InTI dan didukung oleh Conservation International (CI) dan Global Environment Facility (GEF), langsung mengambil tindakan melalui inisiatif pilot pertanian berupa demplot (lahan percontohan) budidaya sayur-mayur secara lebih ramah lingkungan dan peka terhadap Risiko perubahan iklim.

Selengkapnya
Cerita dari Belu: Menentukan Langkah Baru Pertanian Berkelanjutan di Empat Desa

Apa yang sebenarnya terjadi ketika hasil panen di ladang dan sawah terus menurun? Pertanyaan ini sering kali dijawab dengan alasan umum seperti kelangkaan pupuk atau cuaca yang tidak menentu. Namun, masyarakat di Desa Asumanu, Baudaok, Tohe, dan Maumutin, Kabupaten Belu, menemukan gambaran permasalahan yang lebih mendasar. Sebelumnya, melalui proses Participatory Rural Appraisal (PRA), mereka memetakan kondisi desanya dan menyadari bahwa penurunan hasil panen adalah bagian dari rantai persoalan yang saling berkaitan. Di balik rendahnya produksi pertanian, terdapat masalah kelompok tani yang tidak aktif, minimnya minat anak muda untuk bertani, hingga ancaman lingkungan seperti longsor dan kekeringan. Meski begitu, keempat desa ini masih memiliki potensi yang sama, yaitu ketersediaan sumber mata air, kearifan adat yang kuat, serta beragam komoditas pertanian lokal.

Selengkapnya
Tampilkan lebih ...

Mitra Kami